CLOSE
CLOSE
agungjaka
nugraha.com

Benarkah Signal dan Telegram lebih Aman daripada Whatsapp?

Benarkah Signal dan Telegram lebih Aman daripada Whatsapp?

Benarkah Signal dan Telegram lebih Aman daripada Whatsapp?

Suntingan dari https://www.forbes.com/sites/zakdoffman/2021/01/14/3-things-to-know-before-quitting-whatsapp-for-signal-or-telegram-or-apple-imessage-after-backlash/?sh=289b71f164f6


Ketika semua orang berbondong-bodong untuk bermutasi dari Whatsapp ke aplikasi lainnya (dalam hal ini yang dipilih konsumen adalah Signal dan Telegram) akibat kesalahan komunikasi mereka dalam mempromosikan kebijakan baru, anda mungkin tidak tahu bagaimana tingkat keamanan kedua platform yang digadang-gadang sebagai jujukan pengguna, yaitu Signal dan Telegram.


Berawal dari keluhan Whatsapp ketika mereka merasa "iri" mendengar aplikasi iMessage milik Apple yang sebelumnya tidak memiliki label privasi tiba-tiba saja menerbitkan label privasi, yang membuat posisi Whatsapp terancam dipasaran karena seakan dicitrakan buruk. Yang kemudian membuat Whatsapp mengambil langkah baru dengan meniru iMessage akan tetapi dengan langkah ekstrim dengan memaksa penggunanya untuk menyetujui perubahan kebijakan tersebut. Seperti yang kita dengar beberapa waktu yang lalu bahwa Whatsapp akan memblokir atau menghapus akun yang tidak mau menyetujui peraturan baru tersebut.


Mungkin Whatsapp lupa bahwa iMessage mempunyai pasar tersendiri dengan pengguna smartphone Apple yang mana penggunanya setuju atau tidak setuju, mereka tetap akan diwajibkan untuk mengikuti semua kebijakan dari Apple. Apalagi Apple merupakan produk yang memiliki gengsi bagi para penggunanya di seluruh dunia.


Terlepas dari keluhan diatas, sebenarnya Whatsapp berkeinginan untuk memfasilitasi pelanggan bisnis Facebook untuk bisa berkomunikasi kepada pengguna Whatsapp, dan sebenarnya tidak ada permasalahan dengan keamanan privasi. Akan tetapi apalah daya, perubahan kebijakan privasi yang terkesan memaksa dengan ancaman menghapus akun tersebut menjadi bola panas yang akhirnya menimpa Whatsapp sendiri.


Walaupun Whatsapp mencoba untuk mengklarifikasi, namun apalah daya semua itu sudah terlambat. Isu yang berkembang di masyarakat begitu cepat dan membunuh eksitensi WA. Dan tak berapa lama kemudian Signal dan Telegram seperti "kejatuhan bulan" menerima gelombang mutasi dari Whatsapp termasuk dari anda juga mungkin. Dan hal inilah yang akhirnya menentukan pilihan anda pada saat ingin memilih platform mana untuk berlabuh, dan kami akan mencoba membantu dengan memberikan sedikit informasi antara keduanya (Signal dan Telegram).


Siapakah Signal dan Telegram?

Sebelum ke pembahasan, terlebih dahulu kita perlu tahu siapakah orang yang berdiri dibalik kedua aplikasi tersebut. Telegram sebenarnya dikelola dan didanai oleh seorang milyarder medsos berasal dari Rusia yaitu Pavel Durov. Pada awalnya image tentang Telegram adalah platform bagi para "pembangkang", "pengunjuk rasa", serta sayangnya para "ekstrimis", dan bagi semua pihak yang dianggap ingin menjaga pembicaraan mereka secara online dengan menghindari pihak yang berwenang. Hal itu disebabkan Telegram sanggup menjaga kunci deskripsi agar tidak ada pihak lain termasuk pihak yang berwenang untuk bisa mengakses konten pengguna. Seperti kita tahu terdapat kasus beberapa tahun yang lalu ketika telegram sempat akan diblokir dari Indonesia akibat tidak bersedia memberikan data tentang penyebar konten negatif yang diduga menggunakan aplikasi Telegram dalam komunikasinya. Namun kasus tersebut terselesaikan setelah pihak Telegram bersedia memblokir akun atau grup yang diduga penyebarkan konten negatif.


Signal didirikan oleh seorang peneliti keamanan yang menggunakan nama Moxie Marlinspike untuk profil publiknya. Diketahui bahwa sampai tahun 2018, platform ini khusus digunakan untuk pekerja keamanan saja, oleh sebab itu sebelum tahun tersebut kita tidak akan menemukan aplikasi Signal di AppStore maupun PlayStore. Sampai pada saat kemudian Brian Acton salah satu pendiri Whatsapp meninggalkan Facebook dan bergabung dengan Signal. Sebelum Brian datang, Signal sangat tidak familiar untuk digunakan. Namun kini sudah berubah, bahkan fiturnya dapat dibilang bisa bersaing dengan Whatsapp, bisa diambil contohnya yaitu stiker dan panggilan grup.


Telegram merupakan milik pribadi dan ada beberapa isu mengenai kemungkinan IPO untuk terus mendanai pertumbuhannya. Sementara Signal beroperasi sebagai yayasan nirlaba. Pertanyaannya adalah apakah mereka akan terus mampu mendanai pertumbuhan platform mengingat terdapat puluhan hingga ratusan juta pengguna baru akibat mutasi dari Whatsapp, sedangkan pembiayaan mereka sebagian besar berasal dari donasi dan biaya pribadi. Tentu saja itu bukanlah suatu hal yang murah. Itulah yang akan menjadi pekerjaan rumah bagi kedua platform tersebut.


Apakah anda benar-benar lebih aman ketika pindah ke Signal atau Telegram?

Meskipun dalam klarifikasinya Whatsapp mengatakan bahwa tidak akan membagikan sesuatu yang bersifat pribadi atau hal sensitif dengan facebook, namun pada kenyataannya platform tersebut masih mengumpulkan data terlalu banyak. Tetapi apakah anda pernah mempertanyakan tentang keamanan pesan Anda?


Whatsapp merupakan salah satu platform yang mempopulerkan enkripsi end-to-end, dimana hanya pengirim dan penerima pesan saja yang dapat membaca isinya. Bisa dilihat dibagian atas ketika anda melakukan chat dengan lawan anda. Whatsapp juga telah terbukti kukuh mempertahankan penggunaan keamanan semacam itu meskipun terkadang pada suatu negara terdapat undang-undang yang mencoba seolah mengamanatkan "lewat pintu belakang" untuk mendapatkan data. Memang pada tahun 2019 Whatsapp pernah disusupi. yang kemudian diduga sebagai spyware Israel tetapi ini adalah berita paling terakhir yang pernah terdengar tentang masalah keamanan Whatsapp oleh pihak luar. Dan itupun bukan merupakan kelemahan pada infrastruktur Whatsapp itu sendiri.


Dibandingkan dengan Whatsapp, Signal lebih baik jika dilihat dari segi keamanannya, karena Signal tidak menawarkan opsi cadangan cloud dengan alasan keamanan. Karena tindakan yang dilakukan Whatsapp tersebut juga yaitu menyertakan opsi menyimpan riwayat dari percakapan Anda, dan disitu pulalah kelemahan keamanan yang paling utama pada aplikasi WA, walaupun seperti yang kita tahu bahwa keduanya sama-sama menggunakan enkripsi end-to-end.


Lalu bagaimana dengan Telegram? Pada dasarnya pengguna Whatsapp yang berpindah ke Telegram dengan alasan keamanan adalah satu langkah yang menurut saya agak keliru mengingat telegram tidak secara otomatis mengaktifkan enkripsi end-to-end kepada penggunanya kecuali jika menggunakan "secret chat". Itupun dibatasi dengan penghapusan pesan secara otomatis dan pesan yang dituliskan tidak bisa dibagikan. Dan fitur enkripsi pada telegram tidak berlaku untuk grup.


Secara teknis, Telegram dapat mengakses pesan Anda, yang disimpan di servernya, dicadangkan ke cloudnya, dan yang memegang kuncinya. MTProto, protokol enkripsi yang digunakan oleh Telegram, adalah hak milik dan hanya sebagian dari sumber terbuka (opensource). Tetapi dalam praktiknya, Anda dapat mempercayai Telegram dengan tanpa ada masalah serius yang perlu dipertentangkan bahwa mereka akan mengambil data privasi dari konten Anda. Namun tetap saja hal ini berbeda dengan Signal dan Whatsapp yang mengaktifkan enkripsi end-to-end sejak awal anda menggunakannya.




Dari keseluruhan pembahasan diatas menurut saya Signal adalah pemenangnya jika dilihat dari segi keamanan. Memang Signal sempat dikritik karena menggunakan nomor telepon sebagai ID utama, juga terdapat notifikasi ketika terdapat kontak baru ketika bergabung dengan Signal, namun mereka berdalih bahwa ini hanyalah untuk mendorong pertumbuhan dan sebagai pemancing pengguna baru tanpa mengorbankan keamanan, serta pencocokan pengguna baru dengan kotak dianonimkan.


Bagaimana menurut Anda?