thumbnail
other pendidikan seni

Sunan Kalijaga dalam Seni




Sedikit cerita tentang Sunan Kalijaga, nama aslinya adalah Joko Said, seorang putera Bupati Tuban Raden Tumenggung Wilwatikta. Ibunya bernama Dewi Nawang Rum, berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak. Ia menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya dan sangat anti kekerasan. Salah satu pendekatan budaya yang sangat dikenal sampai saat ini adalah wayang purwa atau kulit yang bercorak islam. Selain kesenian wayang kulit, Sunan Kalijaga juga menciptakan sebuah dua tembang sarat makna yaitu tembang lir-ilir dan gundul gundul pacul.




LIR ILIR

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Makna :
Lir-ilir, lir-ilir tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan?Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

Tandure wis sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar. Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi. Mengapa kok “Cah angon” ? Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar. Lalu,kenapa “Blimbing” ? Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam. Kenapa “Penekno” ? ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir. Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore. Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

Yo surako surak hiyo. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)


GUNDUL-GUNDUL PACUL


Tembang Gundul-Gundul Pacul diciptakan sekitar tahun 1400 an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang pada saat itu masih remaja dan tembang ini mempunyai filosofi yang dalam dan sangat mulia.
Mari kita gali lebih dalam makna demi makna dari tembang tersebut, agar para Pemimpin [pemimpin rumah tangga, pemimpin perusahaan, pemimpin organisasi, dll] terlebih Pemimpin Negeri kira Republik Indonesia ini sadar, apa dan bagaimana dalam mengemban amanat dari Rakyatnya ini sesuai ‘pitutur’dari  tembang Gundul-Gundul Pacul ini.
Gundul, adalah Kepala plonthos tanpa rambut. Kepala merupakan lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Sedangkan rambut merupakan lambang keindahan Kepala, sehingga Gundul mempunyai makna kehormatan tanpa mahkota.
Pacul atau cangkul merupakan alat pertanian yang terbuat dari lempengan besi berbentuk segi empat. Dan diberi tangkai untuk pegangan yang di sebut ‘Doran’ kepanjangan dari ‘nDedongo marang Pangeran‘ [berdoa kepada Gusti Allah]. Dalam hal ini Pacul atau cangkul merupakan lambang kawula rendah yang di simbolkan dengan sosok seorang petani.
Gundul Pacul mempunyai arti bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukanlah orang yang diberi Mahkota tetapi dia adalah pembawa Pacul [cangkul] untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya ataupun bagi orang banyak [masyarakat]
Orang Jawa menyebut Pacul merupakan kepanjangan dari ‘Papat Kang Ucul’[empat yang lepas]. Pertanyaannya adalah Empat hal apa yang lepas ? Sejatinya Kemuliaan seseorang tergantung 4 hal. Jika ke empat hal ini lepas, maka lepaslah kemuliaan / kehormatan seseorang terlebih seorang pemimpin. Empat hal tersebut adalah, Mata, Telinga, Hidung, dan Mulut
  1. Mata, digunakan untuk melihat kesulitan rakyat atau orang banyak [baca masyarakat luas]
  2. Telinga, digunakan untuk mendengarkan nasehat, mendengarkan jeritan hati rakyat, sehingga seorang Pemimpin menjadi peka terhadap masalah yang dihadapi rakyat.
  3. Hidung, digunakan untuk mencium wewangian /aroma kebaikan.
  4. Mulut, digunakan untuk berkata adil, tidak hanya berucap yang hanya akan menyakiti hati rakyat
Gembelengan, artinya adalah besar kepala, sombong, congkak dan bermain-main dalam mempergunakan kehormatannya. Nyunggi-nyunggi Wakul kul, artinya meletakkan cething [tempat nasi] berikut nasinya diatas Kepala. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar, cething jatuh sehingga nasinya tersebar di seluruh halaman.
Yuk kita  tembang Gundul-Gundul Pacul ini secara lengkap.
“Gundul gundul pacul cul……, gembelengan. Nyunggi nyunggi wakul kul…….., gembelengan………., wakul ngglimpang segane dadi sak latar…..wakul ngglimpang segane dadi sak latar”
Gundul-gundul Pacul Cul, artinya jika seseorang yang Kepalanya sudah kehilangan 4 Indera [mata, telinga,hidung,dan mulut] akan mengakibatkan ‘Gembelengan‘ atau congkak, bermain-main dengan mempergunakan kehormatan. ‘Nyunggi-nyunggi Wakul kul‘, artinya menjunjung tinggi amanah yang diberikan rakyat/ masyarakat luas dengan ‘Gembelengan‘ atau kesombongan, yang pada akhirnya ‘Wakul Ngglimpang‘  artinya amanah jatuh tidak dapat dipertahankan Segane dadi sak latar artinya, sia-sia tidak bermanfaat bagi kesejahteraan orang banyak/rakyat, dan pada akhirnya kabar buruk ini akan menyebar seluruh kalangan.